Minggu, 17 Oktober 2010

temuan malam hari

Tadi nemu quote menggelitik di twitter:

When people say "you've changed", it's just because maybe you've stopped living your life ... their way.

Ini kayaknya bisa memberikan perspektif lain dari postinganku Februari lalu:
just my thought :D

Sabtu, 16 Oktober 2010

Kebahagiaan

bismillahirrahmanirrahiim..

Halo halo apakabar? Semoga yang baca selalu dalam lindungan Allah..

Blog ini penuh debu dan sarang laba-laba sepertinya. Terakhir update bulan April. Ckck. Semalam akhirnya memutuskan untuk mengubah template blog. Untung ada rancangan template baru, langsung bisa di-apply dan diutak-atik. Jadi ga usah edit-edit HTML sendiri kayak dulu-dulu :D

Lagi mood buat nulis nih. Yah walaupun pada akhirnya nanti tulisan ini ga penting-penting amat kayaknya :P

Mau cerita aja,
Kamis kemarin aku ada kelas pilihan, namanya Berpikir Kritis dan Psikologi. Wuidiiih. Haha jujur aja awalnya aku ambil kelas ini hanya untuk menghabiskan SKS mata kuliah, biar semester depan tinggal skripsi doang. Ga mau bahas mata kuliahnya sih. Cuma mau sharing apa yang terjadi pas kuliah Kamis kemarin.

Mas Aten, dosen mata kuliah itu, memberikan pertanyaan yang sangat filosofis menurutku. Yah secara beliau emang filsuf. Intinya kemarin lagi ngomongin tentang penalaran. Penalaran itu harus merujuk pada informasi, data, dan bukti. Beliau nanya, "Menurut kalian, kebahagiaan itu ada atau enggak? Kalo ada, dari mana kalian bisa menyimpulkan itu? Trus kebahagiaan itu apa sih?"

Denger itu, seisi kelas langsung hening euy. Diem gitu. Mikir sih. Hihi. Tapi karena itu, ga ada yang jawab juga jadinya (sibuk mikir :P), akhirnya Mas Aten nunjuk satu-satu tuh buat ngungkapin pendapatnya. Daan.. terkumpullah beberapa pernyataan. Seisi kelas percaya kalo kebahagiaan itu ada. Dari mana taunya? Kebanyakan bilang "yaa karena pernah ngerasain". Tentang apa arti kebahagiaan itu sendiri, macem-macem pendapat temen-temen, menariik banget.

Ada yang bilang kalo kebahagiaan itu perasaan, emosi, atau afek yang memberikan kenyamanan; ada yang bilang kebahagiaan itu suatu perasaan ketika apa yang kita harapkan sesuai sama kenyataan; ada juga yang bilang kebahagiaan itu perasaan positif ketika tujuan kita tercapai; dan lain-lain. Yang paling menarik menurutku: kebahagiaan itu adalah ketika kita bisa menerima segala situasi, baik ataupun buruk, dan kita bisa mengambil hikmah dari itu semua. Wuidih mantep nih. Yang jawab itu Tegar, seangkatan sama aku, dia finalis Abang None Jakarta perwakilan Jaktim tahun lalu. #justforinfo :D

Terus akhirnya masing-masing individu disuruh buat definisi dari kebahagiaan, dari apa yang udah diungkapin sama temen-temen. Karena tugasnya gitu, aku jadinya cuma ngerangkum apa yang tadi emang udah disebutin. (Hahaa ini ga kritis namanya! :P)

Definisi kebahagiaan yang kurangkum: perasaan positif yang dialami seseorang, tidak hanya ketika ia berhasil mencapai tujuannya, tetapi ketika ia bisa menerima segala situasi dalam hidup ini dan memberikan pemaknaan positif. :)

Nah terus definisi yang kita buat itu diperiksa sama Mas Aten. Ternyata temen-temen banyak yang bikin definisi di luar pendapat-pendapat yang udah kekumpul tadi. (That's why aku bilang aku gak kritis :D) Dan, ada satu definisi yang muantep banget dari filsuf muda di kelas, namanya Mulyadi. Hihi. Dia bilang kebahagiaan itu (kurang lebih) adalah ketika bisa mensyukuri nikmat yang ada dan sabar menghadapi ujian. Subhanallah. Dua konsep yang memang harus kita pakai dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang muslim. Sabar dan syukur. Dalem banget deh Mul..

Terlepas dari definisi yang udah kubikin berdasarkan pendapat temen-temen waktu itu, malah sebelum denger pendapat temen-temen, pokoknya pas awal Mas Aten nanya deh, aku juga punya pemikiran sendiri. Menurutku kebahagiaan itu ada. Dari mana taunya? Ya karena pernah ngerasain. Kita ga bisa ngerasain sesuatu dan namain perasaan itu kalo kita ga pernah ngerasain sesuatu yang berkebalikan dengan sesuatu tadi itu. Simplenya, jelas kita ga bisa ngerasain kebahagiaan kalo ga pernah ngerasain kesedihan. Aku terus berkelana dalam pikiranku (tsaah). Aku mulai mikir apa sih sebenernya yang bisa membuat aku merasa bahagia? Buat dapetin jawabannya, aku mulai dari: biasanya kalo bahagia, aku berperilaku seperti apa sih? Yang jadi jawabanku: senyum, merasa nyaman dalam hati, puas aja gitu. Nah lanjut, biasanya apa yang bisa bikin senyum, nyaman, dan puas? Aku langsung inget, aku biasanya ngerasa kayak gitu kalo abis nolongin orang. Siapapun itu. Cetek ga sih? Hahaha. :D

Ga tau kenapa, pertanyaan dari Mas Aten kok ya hinggap terus di pikiran aku. Haduh maaas.. Hehe. Yang ada tuh tiap kali ngerasain sesuatu, jadi mikir: "ini bahagia bukan?" Perasaan-perasaan yang muncul belum ada yang aku masukin dalam kategori bahagia, sampai akhirnya aku denger beberapa kabar baik. Dari Mama, dari Mba Ira (kakak perempuanku), sama dari Mba Indra (seniorku di kampus). Kabar-kabar dari mereka ini bener-bener baik, terutama Mba Indra: beliau menikah! (siang ini resmi jadi istri suaminya :D Selamat dan berkah ya Mba!)

Dari situ aku menyimpulkan, sepertinya aku bahagia bukan cuma kalo abis nolongin orang, melainkan juga saat aku bisa menyaksikan orang-orang yang aku sayangi itu bahagia dengan hidupnya. Aku ikut bahagia. :')

Efek pertanyaan Mas Aten ini luar biasa deh. Selain yang tadi aku ceritain, aku sempet juga nyari-nyari definisi orang-orang tentang kebahagiaan. Lalu sampailah aku pada kebahagiaan menurut Mahatma Gandhi. Aku tertarik banget sama definisi kebahagiaan menurut beliau karena sepertinya bisa menjelaskan apa yang aku pikirkan tentang kebahagiaan itu sendiri.

Kata Mahatma Gandhi, kebahagiaan itu sama kayak kepuasan. Ketika kita merasa bahwa hidup ini penting dan berguna, ketika kita bisa bermanfaat untuk orang lain, kita akan sampai pada kepuasan tersendiri yang sulit diterjemahkan, kemudian kita merasa bahwa hidup kita memuaskan, di saat itulah kita merasa bahagia. Wow. :)

Naaah, kalo kebahagiaan menurutmu kayak gimana? ;)

Rabu, 14 April 2010

sekian alasan

manusia memang hanya bisa berencana, selebihnya apakah rencana itu berhasil dilaksanakan atau tidak, ada faktor di luar manusia yang mengendalikannya. sebenarnya saya berniat memposting sesuatu yang sudah lama ingin saya share, tetapi apa boleh buat, Allah menghendaki lain. apa yang saya rasakan saat ini lebih mendesak untuk dikeluarkan. tidak ada maksud lain selain mencoba mengeluarkannya dalam bentuk tulisan. karena saya tidak memiliki sarana lain untuk melampiaskan perasaan. karena saya bukan tipe orang yang dengan mudahnya bisa menceritakan dengan gamblang apa yang sedang saya rasakan.
jujur saja, apa yang saat ini mengalir dari mata dan membasahi pipi saya tidak dapat dibendung.
saya mencoba menarik napas dalam-dalam dengan tujuan melegakan perasaan dan menahan air ini agar tidak jatuh, tapi tidak kuasa.
banyak hal yang mendasari ini semua. saya tahu alasannya.
saya kesepian.
sudah lebih dari 9 hari ini saya menjadi "anak tunggal" di dalam rumah. dan baru saya tahu, betapa sangat tidak enaknya menjadi anak tunggal. terlebih buat saya, seorang anak bungsu. banyaak sekali hal yang saya rasakan hilang dari kehidupan ini. tetapi setelah mengingat-ingat kembali, apakah saya pantas merasa sedih, apakah pantas saya menangis HANYA karena hal ini? sementara kakak laki-laki saya di Korea sana pun sendirian, berjuang menyelesaikan kuliahnya tanpa kehadiran keluarga sebagai pemberi dukungan. apakah pantas saya merasa seperti ini sementara kakak perempuan saya juga tengah berjuang di pedalaman Sukabumi sana demi penelitian akhirnya? sungguh egois dan piciknya saya.
saya juga rindu. rindu dengan kakak-kakak saya yang sedang berjuang dengan urusannya masing-masing itu. kami bertiga memang tidak bisa dikatakan akur. kami sering, sangat sering bertengkar dan ledek-ledekan. kami bukan tipe saudara yang dengan mudah mengungkapkan kata sayang untuk saudara yang lain. tapi di balik semua itu, di hati kami masing-masing kami merasa saling menyayangi dan membutuhkan. saya sangat merasakan itu. ketika kakak-kakak saya pergi, saya sangat kehilangan. tidak ada lagi yang mem-bully saya, meledek-ledek saya, menggoda, dan sebagainya. dan sungguh benar apa kata orang bijak, kita akan merasa sangat menyayangi sesuatu apabila kita sudah kehilangannya.
saya kesal.
kesal dengan perlakuan seseorang yang... ah, sudahlah. tidak penting saya ungkapkan di sini. saya hanya berharap semoga Allah berkenan mengizinkan orang tersebut menjemput hidayah dari-Nya.
saya sedih.
saya telah mengecewakan orang (-orang) yang saya sangat saya sayangi.
inilah porsi terbesar dari air mata saya.
ada yang pernah merasakan perasaan seperti saya? di mana orang yang sangat kita sayangi berharap kita melakukan sesuatu, tetapi kita tidak bisa melakukannya.
sangat menyakitkan buat saya, terlebih saya tidak bisa melakukannya bukan karena saya memang tidak bisa, melainkan karena saya MERASA tidak bisa. ya, saya BELUM mencoba melakukannya. saya sudah menyerah sebelum bertanding. dan hal ini sungguh membuat saya sangaat menyesal, saya telah mengecewakan orang (-orang) yang saya sayang.

malam ini semua yang saya ceritakan di atas mendesak-desak dalam benak saya, meneror pikiran saya, kemudian air mata jatuh begitu saja. satu airmata untuk sekian banyak alasan.
Allah, ampuni hamba...

Kamis, 18 Maret 2010

memilih


kalau boleh memilih, lebih baik tidak usah dilahirkan.
tidak ada berarti tidak punya beban.
tidak ada berarti tak ada kewajiban.
bahkan masalah dan segala tetek-bengek kehidupan.
hanya saja, ketiadaan yang membuat saya tidak mengenal orang sepertimu.

itu yang membuat saya bersyukur tidak bisa memilih.


-short message service from my bestfriend.



Rabu, 10 Februari 2010

renungan (2)


"ditusuk kepala seseorang dengan paku dari besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya (sehingga ia menikah)." (HR Thabrani)



taken from my brother's FB status. semoga bisa menjadi tadzkiroh..

Minggu, 07 Februari 2010

renungan (1)

Hamba-Ku,
Adanya dirimu hanya bagi dirimu
Dan semua bergantung atas perbuatanmu
Aku berikan kesempatan
Dan nantinya Kuanugerahi balasan
Siapapun nantinya yang akan memperoleh kebaikan
Hendaklah ia berterimakasih dan memuji Tuhan
Dan yang menemukan keburukan
Janganlah mengeluh dan menyalahkan
Kecuali pada dirinya sendiri

Rasulullah Muhammad saw bersabda:
Orang-orang yang selalu menyayangi
Akan disayang Maha Penyayang
Maka, sayangilah penghuni bumi
Niscaya engkau akan disayang penduduk langit..


renungan malam dari Mutiara Berserak Ibnu Hajar al-'Asqalani

Sabtu, 06 Februari 2010

just my thought

bismillahirrahmanirrahim..
tadi sempet kepikiran sama masalah yang lumayan mengganggu kehidupan. (lebay :D)
sering sekali aku ngerasain yang namanya perubahan di diri temen-temen. entah jadi lebih terbuka, lebih agresif, lebih sensitif, lebih gokil, kurang berbaur, atau apapun itu. nah, kalo udah gitu, aku seringnya mikir, "ya ampuun berubah banget ya dia." atau lebih ekstremnya lagi, "sampe kayak ga ngenalin lagi gw.." dan pendapat-pendapat mirip lainnya, yang intinya sama, menilai, menjudge perubahan itu.
nah tadi lagi mikir aja tiba-tiba.
apa iya kalo kita ngeliat temen kita berubah, kita bisa bilang gitu? "berubah banget.." atau "iih gw udah ga kenal lagi sama dia." atau "kok dia jadi gitu sih?"
apa iya kita berhak menjudge kayak gitu?
apa kita bener-bener udah kenal dia?
jangan-jangan kita emang belom kenal sama orang itu, belom tau tentang dirinya secara mendalam. trus pas ada sesuatu yang selama ini belom pernah kita lihat (yang dipersepsikan sebagai perubahan) kita jadi menilai dirinya sudah berbeda dengan yang dahulu, padahal sebenernya aslinya dia ya emang si perubahan itu.
duh duh pasti bingung deh. sama, aku juga. hahaha